Jumat, 06 Februari 2015

BAHASA IBU VS BAHASA NATURALISASI



KASIHAN BAHASA IBU
Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu yang telah resmi kita gunakan sejak 79 tahun yang lalu. Yang juga merupakan saksi bisu perjuangan heroik bangsa indonesia melawan penjajah. Selain itu, Bahasa indonesia mempunyai beberapa fungsi kedudukan nasional yang sangat luhur, diantaranya: 1) Lambang kebanggaan nasional 2) Lambang identitas nasional 3) Alat pemersatu 4) Alat perhubungan antar kebudayaan antar daerah. Dari keempat fungsi keduduakan bahasa indonesia tersebut hanya poin nomor empat yang terlihat masih agak tergunakan dengan semestinya walaupun sudah mulai berkurang. Karena memang mayoritas penduduk indonesia dari kota hingga pelosok desa ‘masih’ bisa menggunakan dan mengerti bahasa indonesia. Sesungguhnya bahasa indonesia sudah tercemar dari dulu oleh tokoh-tokoh orde baru. Tokoh-tokoh bangsa yang semestinya menjadi contoh bertutur dengan baik malah mengutak-atik bahasa indonesia seenak mereka. Ingatkah kita pada pidato-pidato para pejabat yang merubah imbuhan ‘-kan’ menjadi ‘-ken’, yups! “menjalanken, mengusahaken, membuahken, merembukken, KEWAREKEN, dll”.dari situlah awal mula dan cikal bakal bahasa indonesia bermutasi menjadi bahasa ‘gaul’ yang ngelantur. Dewasa ini manusia akan dianggap pintar dan berwibawa jika dalam perkataannya menyelipkan beberapa istilah asing yang hanya dimengerti orang-orang dari ‘kayangan’ saja. Kayangan yang lupa bagaimana cara menginjak tanah. Tidak tahu darimana asal muasal faham tersebut mencuat. Coba kita tengok sebentar berapa banyak kata yang telah diserap dari bahasa asing menjadi bahasa indonesia.
1.      Bahasa belanda                                   (3.280 kata)
2.      Bahasa inggris                                     (1.610 kata)
3.      Bahasa Arab                                        (1.495 kata)
4.      Bahasa Sansekerta atau jawa kuno     (677 kata)
5.      Bahasa Cina                                        (290 kata)
6.      Bahasa Portugis                                  (131 kata)
7.      Bahasa Tamil                                       (83 kata)
8.      Bahasa Parsi                                        (63 kata)
9.      Bahasa Hindi                                      (7 kata)
* Dihimpun dari data yang dapat dipercaya.
Tidak salah memang jika seseorang lebih memilih menggunakan bahasa asing daripada bahasa ibunya yang telah mendarah daging. Apalagi di jaman yang penuh persainagan seperti ini. Penguasaan bahasa asing terutama bahasa inggris menjadi kemampuan yang bersifat esensial untuk dikuasai karena memang informasi-informasi penting pertma kali akan dimuat dalam bahasa inggris. Ada istilah “dengan bahasa kita bisa menguasai dunia” memang tepat sekali untuk orang-orang yang haus akan kekuasaan duniawi. Tapi sangat berpengaruh terhadap keberadaan bahasa nasional kita. Belum lagi dari media telekomunikasi paling populer dan berpengaruh di dunia saat ini, TV atau televisi. Banyak sekali acara khususnya film-film remaja yang menggunakan bahasa ‘loe-gue-end, masalah-buat-loe, Alhamdulillah-ya-sesuatu, dll’. Huft…. Capek nyebutin satu-satu… sebelumnya maaf-maaf juga kalau artikel saya ni menggunakan bahasa yang carut marut. Hehehe…
Dari berbagai kenyataan tersebut diharapkan kita sadar akan kelestarian bahasa indonesia kita.Bahasa indonesia bisa dikembalikan lagi kepada fungsi dan kedudukan semula. Dengan kemajuan tekhnologi yang begitu pesat. Berbagai alat komunikasi yang tersebar dengan luas menjadi tantangan yang hebat untuk ditandingi dalam usaha pelestarian bahasa ibu kita. Sejatinya pembelajaran bahasa indonesia yang baik dan benar telah terselenggara sejak dari SD (Sekolah Dasar) tetapi media informasi dan lagi-lagi orang-orang generasi tua sendirilah yang merusak tatanan tersebut. Dengan gaya sok pintar dan telah mengenyam pahit-asin-getir roda hidup mereka berbicara dengan bahasa gado-gado yang hanya dimengerti penjual gado-gado saja “bercanda” hehe….   Itulah mengapa sangat sulit untuk mengembalikan bahasa indonesia ke “kandangnya”. Sedikit merefres ingatan kita “Kami, putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, demikianlah bunyi alenia ketiga sumpah pemuda yang telah dirumuskan oleh para pemuda yang kemudian menjadi pendiri bangsa dan negara Indonesia. Memang masih abadi tersimpan di museum sumpah pemuda di Jakarta. Tapi siapa yang tahu masih adakah di sanubari para pemuda kita indonesia... ?

1 komentar: