BAB I
EPISTEMOLOGI
1.
Latar Belakang
Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang
pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu
diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan.
Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk
mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Sebenarnya kita
baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti
pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Kita mungkin terpaksa mengingkari
kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan
bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinan-kemungkinan dan bukannya
kepastian, atau mungkin dapat menenatapkan batas-batas antara bidang-bidang
yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak
memungkinkannya (Luis O. Kattsoff, 2004)
Dalam
pembahasan filsafat, epistemologi
dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. Sistem filsafat disamping meliputi
epistemologi, juga ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah teori
pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari
objek yang ingin dipikirkan. Ontologi adalah teori
tentang “ada”, yaitu tentang apa yang dipikirkan, yang menjadi objek pemikiran.
Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat,
kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. Oleh karena itu, ketiga sub sistem ini biasanya
disebutkan secara berurutan, mulai dari ontologi, epistemologi, kemudian aksiologi.
Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan, ada sesuatu yang dipikirkan
(ontologi), lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi), kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan
suatu manfaat atau kegunaan (aksiologi).
Demikian
juga, setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik
mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi)
dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini
saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi
ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Kalau kita ingin
membicarakan epistemologi ilmu,
maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail,
tidak mungkin bahasan epistemologi
terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan yang
didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa
dikaitkan.
Keterkaitan
antara ontologi, epistemologi,
dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam
suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng
dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang
berurutan dalam mekanisme pemikiran. Hal ini akan lebih jelas lagi, jika kita
renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran, tetapi jika tidak didapatkan
cara-cara berpikir, maka objek pemikiran itu akan “diam”, sehingga tidak
diperoleh pengetahuan apapun. Begitu juga, seandainya objek pemikran sudah ada,
cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan
dari sesuatu yang dipikirkan itu, maka hanya akan sia-sia. Jadi, ketiganya
adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling
bergantung).
Namun
demikian, ketika kita membicarakan epistemologi
disini, berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau
langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan
perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang
paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan
aksiologi. Oleh karena itu, kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi, mulai dari pengertian,
ruang lingkup, objek, tujuan, landasan, metode, hakikat dan pengaruh epistemologi
A. Sumber Pengetahuan
(Elisya Putri / 116474072)
Sebelum mengkaji lebih dalam tentang epistemologi
mari kita telusuri darimana sumber pengetahuan bisa kita dapatkan.
ü
Indera
Indera
digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan di sekitar kita.
Indera ada bermacam-macam; yang paling pokok ada lima (panca indera), yakni
indera penglihatan (mata) yang memungkinkan kita mengetahui warna, bentuk, dan
ukuran suatu benda; indera pendengaran (telinga) yang membuat kita membedakan
macam-macam suara; indera penciuman (hidung) untuk membedakan bermacam
bau-bauan; indera perasa (lidah) yang membuat kita bisa membedakan makanan enak
dan tidak enak; dan indera peraba (kulit) yang memungkinkan kita mengetahui
suhu lingkungan dan kontur suatu benda.
Pengetahuan lewat indera disebut juga
pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yang berlebih kepada
alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, atau bahkan satu-satunya
sumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisisme, dengan
pelopornya John Locke (1632-1714) dan David Hume dari Inggris. Mengenai
kesahihan pengetahuan jenis ini, seorang empirisis sejati akan mengatakan
indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, dan
pengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar.
Tetapi mengandalkan pengetahuan
semata-mata kepada indera jelas tidak mencukupi. Dalam banyak kasus,
penangkapan indera seringkali tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya
pensil yang dimasukkan ke dalam air terlihat bengkok, padahal sebelumnya lurus.
Benda yang jauh terlihat lebih kecil, padahal ukuran sebenarnya lebih besar.
Bunyi yang terlalu lemah atau terlalu keras tidak bisa kita dengar. Belum lagi
kalau alat indera kita bermasalah, sedang sakit atau sudah rusak, maka kian
sulitlah kita mengandalkan indera untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.
ü
Akal
Akal atau rasio merupakan fungsi
dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala, yakni otak. Akal mampu
menambal kekurangan yang ada pada indera. Akallah yang bisa memastikan bahwa
pensil dalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun
tampaknya sabit. Keunggulan akal yang paling utama adalah kemampuannya
menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu, tanpa terikat pada fakta-fakta
khusus. Akal bisa mengetahui hakekat umum dari kucing, tanpa harus
mengaitkannya dengan kucing tertentu yang ada di rumah tetangganya, kucing
hitam, kucing garong, atau kucing-kucingan.
Akal mengetahui sesuatu tidak secara
langsung, melainkan lewat kategori-kategori atau ide yang inheren dalam akal dan
diyakini bersifat bawaan. Ketika kita memikirkan sesuatu, penangkapan akal atas
sesuatu itu selalu sudah dibingkai oleh kategori. Kategori-kategori itu antara
lain substansi, kuantitas, kualitas, relasi, waktu, tempat, dan keadaan.
Pengetahuan yang diperoleh dengan
akal bersifat rasional, logis, atau masuk akal. Pengutamaan akal di atas
sumber-sumber pengetahuan lainnya, atau keyakinan bahwa akal adalah
satu-satunya sumber pengetahuan yang benar, disebut aliran rasionalisme, dengan
pelopornya Rene Descartes (1596-1650) dari Prancis. Seorang rasionalis umumnya
mencela pengetahuan yang diperoleh lewat indera sebagai semu, palsu, dan
menipu.
ü
Hati atau Intuisi
Organ fisik yang berkaitan dengan
fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti; ada yang menyebut
jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi
muncul berupa pengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa
melalui proses penalaran yang jelas, non-analitis, dan tidak selalu logis.
Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan, baik saat santai maupun
tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah
jalan-jalan di trotoar, saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur,
atau saat kita menikmati pemandangan alam.
Intuisi disebut juga ilham atau
inspirasi. Meskipun pengetahuan intuisi hadir begitu saja secara tiba-tiba,
namun tampaknya ia tidak jatuh ke sembarang orang, melainkan hanya kepada orang
yang sebelumnya sudah berpikir keras mengenai suatu masalah. Ketika seseorang
sudah memaksimalkan daya pikirnya dan mengalami kemacetan, lalu ia
mengistirahatkan pikirannya dengan tidur atau bersantai, pada saat itulah
intuisi berkemungkinan muncul. Oleh karena itu intuisi sering disebut
supra-rasional atau suatu kemampuan yang berada di atas rasio, dan hanya
berfungsi jika rasio sudah digunakan secara maksimal namun menemui jalan buntu.
Hati bekerja pada wilayah yang tidak
bisa dijangkau oleh akal, yakni pengalaman emosional dan spiritual. Kelemahan
akal ialah terpagari oleh kategori-kategori sehingga hal ini, menurut Immanuel
Kant (1724-1804), membuat akal tidak pernah bisa sampai pada pengetahuan
langsung tentang sesuatu sebagaimana adanya (das ding an sich) atau noumena.
Akal hanya bisa menangkap yang tampak dari benda itu (fenoumena),
sementara hati bisa mengalami sesuatu secara langsung tanpa terhalang oleh
apapun, tanpa ada jarak antara subjek dan objek.
Kecenderungan akal untuk selalu
melakukan generalisasi (meng-umumkan) dan spatialisasi
(meruang-ruangkan) membuatnya tidak akan mengerti keunikan-keunikan dari
kejadian sehari-hari. Hati dapat memahami pengalaman-pengalaman khusus,
misalnya pengalaman eksistensial, yakni pengalaman riil manusia seperti yang
dirasakan langsung, bukan lewat konsepsi akal. Akal tidak bisa mengetahui rasa
cinta, hatilah yang merasakannya. Bagi akal, satu jam di rutan salemba dan satu
jam di pantai carita adalah sama, tapi bagi orang yang mengalaminya bisa sangat
berbeda. Hati juga bisa merasakan pengalaman religius, berhubungan dengan Tuhan
atau makhluk-makhluk gaib lainnya, dan juga pengalaman menyatu dengan alam.
Pengutamaan hati sebagai sumber
pengetahuan yang paling bisa dipercaya dibanding sumber lainnya disebut intuisionisme.
Mayoritas filosof Muslim memercayai kelebihan hati atas akal. Puncaknya adalah
Suhrawardi al-Maqtul (1153-1192) yang mengembangkan mazhab isyraqi (iluminasionisme),
dan diteruskan oleh Mulla Shadra (w.1631). Di Barat, intuisionisme dikembangkan
oleh Henry Bergson.
Selain itu, ada sumber pengetahuan
lain yang disebut wahyu. Wahyu adalah pemberitahuan langsung dari Tuhan kepada
manusia dan mewujudkan dirinya dalam kitab suci agama. Namun sebagian pemikir
Muslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai
jenis intuisi pada tingkat yang paling tinggi, dan hanya nabi yang bisa
memerolehnya.
Dalam tradisi filsafat Barat,
pertentangan keras terjadi antara aliran empirisisme dan rasionalisme. Hingga
awal abad ke-20, empirisisme masih memegang kendali dengan kuatnya
kecenderungan positivisme di kalangan ilmuwan Barat. Sedangkan dalam tradisi
filsafat Islam, pertentangan kuat terjadi antara aliran rasionalisme dan
intuisionisme (iluminasionisme, ‘irfani), dengan kemenangan pada aliran yang
kedua. Dalam kisah perjalanan Nabi Khidir a.s. dan Musa a.s., penerimaan Musa
atas tindakan-tindakan Khidir yang mulanya ia pertanyakan dianggap sebagai
kemenangan intuisionisme. Penilaian positif umumnya para filosof Muslim atas
intuisi ini kemungkinan besar dimaksudkan untuk memberikan status ontologis
yang kuat pada wahyu, sebagai sumber pengetahuan yang lebih sahih daripada
rasio.
B. Pengertian Epistemologi
(
Adhe Baskoro P / 116474076 )
Secara
historis, istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J.F. Ferrier, untuk membedakan
dua cabang filsafat, epistemologi dan ontologi. Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi
ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah
dipahami. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli, tetapi
mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya, sehingga
didapatkan pengertian yang berbeda-beda, buka saja pada redaksinya, melainkan
juga pada substansi persoalannya.
Substansi
persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep,
meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Lazimnya,
pembahasan konsep apa pun, selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian
(definisi) secara teknis, guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung
dalam konsep tersebut. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas
pembahasan konsep selanjutnya. Misalnya, seseorang tidak akan mampu menjelaskan
persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami
substansi belajar itu sendiri. Setelah memahami substansi belajar tersebut, dia
baru bisa menjelaskan proses belajar, gaya belajar, teori belajar,
prinsip-prinsip belajar, hambatan-hambatan belajar, cara mengetasi hambatan
belajar dan sebagainya. Jadi, pemahaman terhadap substansi suatu konsep
merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang
dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian).
Demikian
pula, pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman
terhadap substansinya, sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang
terkait dengan epistemologi itu. Ada beberapa pengertian epistemologi yang
diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa
sebenarnya epistemologi itu.
Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of
knowledge). Secara etimologi,
istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan
logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat
yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya
(validitasnya) pengetahuan. Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah “apa
yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah:
1.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?; 2). Dari mana pengetahuan itu
dapat diperoleh?; 3). Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan
pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman)
(Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2003, hal.32).
Pengertian
lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana
kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah
hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan
yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis
Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).
Menurut
Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai
hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik
untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu.
Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat
yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan,
pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan
mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi
sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan,
dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat
diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
Inti pemahaman dari kedua pengertian
tersebut hampir sama. Sedangkan
hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung
persoalan kodrat pengetahuan, sedangkan pengertian kedua tentang hakikat
pengetahuan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Kodrat
berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan, sedang hakikat pengetahuan
berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan, sehingga menghasilkan pengertian yang
sebenarnya. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran
yang saling berlawanan, yaitu realisme dan idealisme.
Selanjutnya,
pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut,
diungkapkan oleh Dagobert D.Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah
cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas
pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi
sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam, pengertian, struktur, metode dan
validitas ilmu pengetahuan”. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian
tersebut, tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian
tersebut, tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif
lebih mudah dipahami.
C.
Pembagian Epistemologi
(Mukhammad Sauqi Fadli / 116474075)
·
Epistemologi
Barat
Harus
diakui bahwa dunia barat sekarang telah mencapai kemajuan yang sangat pesat.
Berbagai belahan dunia merasa tertarik menjadikan barat sebagai referensi dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab barat dianggap mampu
menyajikan berbagai temuan baru secara dinamis dan varian, sehingga memberikan
sumbangan besar terhadap sain dan teknologi modren.
Barat yang
dikenal maju sebenarnya diwakili Amerika Utara dan Eropa Barat. Dua belahan
wilayah inilah yang membawa gerbong kemajuan Barat, sehingga kemajuan yang
dicapai tersebut mempengaruhiseluruh wilayah di dunia. Adapun faktor yang
menjadikan barat mencapai kemajuan yang pesat adalah dengan pendekatan sainsnya
pada epistemologi. Epistemologi yang dikuasai oleh ilmuan barat benar-benar
dimanfaatkan untuk mewujudkan temuan-temuan baru dalam sains dan teknologi.
Teori-teori ilmiah dibangun dengan berdasarkan penalaran dan pengamatan, tumbuh
dengan subur sehingga menghasilkan temuan baru silih berganti, baik bersifat
temuan lama, temuan baru, maupun menentang temuan lama sama sekali.
Epistemologi
yang dikuasai dan dikembangkan oleh barat ternyata dapat mempengaruhi pemikiran
para ilmuwan di seluruh dunia seiring dengan pengenalan dan sosialisasi sains
dan teknologi mereka. Epistemologi tersebut dijadikan sebagai acuan dalam
mengembangkan pemikiran para ilmuan di masing-masing Negara secara praktis
mereka terbaratkan; pola pikirnya, pijakan berpikirnya, metode berpikirnya,
caranya mempersepsi terhadap pengetahuan dan sebagainya, mengikuti gaya barat
semuanya. Secara tidak sadar mereka terbelenggu oleh pengaruh yang mengikatnya.
Padahal sesungguhnya epistemologi harus dijadikan sarana penalaran berpikir
yang bisa mewujudkan dinamuka pemikiran, berubah menjadi penyeraraman cara-cara
berpikir. Seolah –olah ada satu model berpikir yang mesti diikuti. Kondisi
semacam ini membuktikan, bahwa sesungguhnya sedang terjadi proses imperialisme
epistemologi barat terhadap pemikiran masyarakat sedunia.
Ø Pendekatan-pendekatan epistemologi barat
a) Selanjutnya, perlu diidentifikasi
pendekatan epistemologi barat yang telah melakukan melakukan imperialism
epistemologi diseluruh dunia, terutama di dunia Islam. Adapun pendekatan
epistemologi barat adalah skeptis, rasional-empiris, dikotomik,
positivis-objektivis, dan menentang dimensi spritualis (anti metafisika).
Pendekatan Skeptis
Pendekatan Skeptis
Skiptis atau keragu-raguan
(Kesangsian) tampaknya menjadi warna dasar bagi epestimologi barat. Skeptisisme
pertama kali didunia barat diperkenalkan Rene Descartes (1596-1650). Dia
mendapat gelar bapak filsafat modern. Bagi Rene Descartes, filsafat dan ilmu
pengetahuan dapat diperbarui dengan melalui metode dengan menyangsikan
segala-galanya. Sebab dalam bidang ilmiah tidak ada sesuatu yang di anggap
pasti ; semuanya dapat dipersoalkan dan pada kenyataannya memang dipersoalkan
juga, kecuali ilmu pasti. Keraguan sebagai suatu metode epistemologi yang
dipakai filosof dan ilmuwan barat, ternyata memiliki konsekuensi berputar-putar
memperpanjanh keraguan. Hal ini lah yang merupakan titik pusat kelemahan dari
keraguan sebagai metode epistemologis, sehingga sulit mencapai kebenaran yang
bisa diandalkan, sehingga hanya mendapatkan kebenaran yang mengandung keraguan.
b) Pendekatan Rasional-Empiris
Sebenarnya dalam filsafat
metode skeptis tidak bisa dilepaskan dari metode rasional. Descartes di samping
dikenal sebagai tokoh skeptisisme , ia juga juga sebagai tokoh rasionalisme.
Dalam mekanisme kerja epistemologi barat, penggunaan rasio menjadi mutlak dan dibutuhkan.
Tidak ada kebenaran yang bisa di pertanggungjawabkan tanpa mendapat kebenaran
dari rasio. Para ilmuwan boleh mengmukakan konsep tentang cara-cara mendapatkan
ilmu pengetahuan, haruslah konsep tersebut diterima oleh akal manusia. Artinya
adalah rasio mempunyai perenan penting dalam mengesahkan suatu ilmu
pengetahuan.
c) Pendekatan dikotomik
Dikotomik adalah pembagian
atas dua konsep yang saling bertentangan. Dikotomi pengetahuan dalam bahasan
ini memeliki akar sejarah yang panjang dan menegaskan. Dikotomi pengetahuan
muncul bersamaan atau setidak-tidaknya beriringan dengan masa renaissance. Hal
ini lebih mengarah kepada sejarah seperti yang terdapat pada masa gereja. Yang
mana semua hasil temuan dari ilmu pengetahuan apabila bertentangan dengan doktrin-doktrin
gereja, pengetahuan tersebut akan tertolak. Oleh karena itu pengetahuan barat
dapat dimengerti dari persepektif sejarah. Artinya adalah ajaran- ajaran
gereja, menjadi satu hambatan bagi perkembanagn ilmu pengetahuan.
d) Pendekatan positif –objektif
Filsafat fositif adalah
filsafat faktual yakni berdasarkan pakta-pakta. Maksudnya adalah pengetahuan
tidak boleh melampau fakta-fakta, maka pengetahuan empiris dijadikan pedoman
istimewa dalam bidang pengetahuan.
e) Pendekatan yang menentang dimensi Spritual
(Metafisika)
Epistemologi modern yang
diawali dari pemikiran Descartes, mengarah pada antroposentris. Ungkapan
Descartes, bahwa saya berpikir maka saya tidak ada semata-mata menunjukkan
pembemberdayaan potensi manusia, tetapi ungkapan sekaligus berusaha untuk
membalik kondisi dan tradisi sebelumnya yang mendasarkan kebenaran pada
sumber-sumber kekuasaan diluar manusia seperti kekuasan gereja.
·
Epistemologi
Islam
Akibat
epistemologi barat yang mengistemewakan peranan manusia dalam memecahkan segala
sesuatu dan dalam waktu bersamaan menentang dimensi spiritual yang kemudian
menjadi sumber utama krisis epistemologi yang berimpilikasi pada krisis
pengetahuan, maka ada upaya untuk mencari pemecahanya dengan mempertimbangkan
epistemologi lain. Dikalangan pemikir Muslim menawarkan pemecahan itu dengan
Epistemologi Islam. Mereka mencoba menggagas bangunan epistemologi Islam
tersebut dengan diformulasikan berdasar kan Al-qur’an dan Sunah. Jadi gagasan
epistemologi merupakan respon kreatif terhadap tantangan–tantangan mendesak
dari ilmu pengetahuan modern yang membahayakan kehidupan dan keharmonisan
manusia sebagai akibat dari epistemologi barat.
Gagasan epistemologi Islam itu bertujuan untuk memberi ruang gerak bagi umat Islam, agar bisa keluar dari belenggu pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan epistemologi barat.
Gagasan epistemologi Islam itu bertujuan untuk memberi ruang gerak bagi umat Islam, agar bisa keluar dari belenggu pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan epistemologi barat.
D.
Ruang Lingkup
Epistemologi.
(Ahmad Burhanuddin Kusuma Nugraha /
116474073)
Bertolak
dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut, kiranya kita perlu memerinci
aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. Sebenarnya
masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi
sekaligus, karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian
aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek
lainnya, seperti proses maupun tujuan. Akan tetapi, ada baiknya dikemukakan
pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi,
sebab pernyataan-pernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin
komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi.
M. Arifin
merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas
pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur,
macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin
menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah
ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun
ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu
yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua
pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok; masalah sumber ilmu
dan masalah benarnya ilmu.
Jadi
meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat, tetapi cakupannya luas
sekali. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi, sebagaimana
diuraikan tersebut, maka teori pengetahuan itu bisa meliputi, hakikat,
keaslian, sumber, struktur, metode, validias, unsur, macam, tumpuan, batas,
sasaran, dasar, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban dan skope pengetahuan.
Bahkan menurut, Sidi Gazalba, taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang
yang memberikannya termasuk epistemologi, sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin
tentang psikologi kepercayaan. Jelasnya, seluruh permasalahan yang berkaitan
dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi.
Mengingat
epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara ekstrem
menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha
menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk
menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. Filsafat merupakan refleksi,
dan refleksi selalu bersifat kritis, maka tidak mungkin seserorang memiliki
suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika,
atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi, atau bahkan
suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. Epistemologi senantiasa
“mengawali” dimensi-dimensi lainnya, terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba
untuk digali. Kenyataan ini kembali mempertegas, bahwa antara epistemologi
selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi, melainkan bisa juga sebaliknya,
ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya, seperti psikologi selalu diiringi
oleh epistemologi.
Dalam
pembahasa-pembahsan epistemologi, ternyata hanya aspek-aspek tertentu yang
mendapat perhatian besar dari para filosof, sehingga mengesankan bahwa
seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek
tertentu. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya
lebih banyak cenderung diabaikan. Semestinya harus ada pergeseran pusat
perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu, agar dapat
menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya
secara proporsional. Lebih dari itu, perubahan kecenderungan pembahasan
tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang
cakupan epistemologi.
Kenyataannya, saat ini literatur-literatur
filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja.
Aspek-aspek itu berkisar pada sumber pengetahuan, dan pembentukan pengetahuan.
M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih
banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan
secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi
banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara
itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi,
atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Kecenderungan sepihak ini menimbulkan
kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan
metode pengetahuan, bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan
metode pengetahuan. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan
aksiologi secara sistemik, seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman,
sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran, ontologi sebagai objek pemikiran,
sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran, sehingga senantiasa berkaitan
dengan nilai, baik yang bercorak positif maupun negatif. Padahal sebenarnya
metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi.
Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak, sebagaimana diuraikan di atas.
Namun, penyederhanaan makna epistemologi
itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk
mengenali sistematika filsafat, khususnya bidang epistemologi. Hanya
saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi,
tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas
metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang
amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan”
pengetahuan.
E. Objek Dan Tujuan Epistemologi
( Yoga irhan wijaya 116474079 )
Dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari, tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan, sehingga
pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Jika diamati secara cermat, sebenarnya objek
tidak sama dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran,
sedang tujuan hampir sama dengan harapan. Meskipun berbeda, tetapi objek dan
tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan, sebab objeklah yang
mengantarkan tercapainya tujuan. Dengan kata lain, tujuan baru dapat diperoleh,
jika telah melalui objek lebih dulu. Misalnya, seorang polisi bertujuan
membunuh perampok yang melakukan perlawanan, ketika akan ditangkap dengan
menambak kepalanya sebagai sasaran. Jadi, tujuannya adalah pembunuhan,
sedangkan objeknya adalah kepalanya. Oleh karena itu, pembunuhan sebagai tujuan
polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok
sebagai sasaran, tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak
kepala perampok, bisa juga dadanya atau perutnya. Ini berarti dalam satu tujuan
bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu.
Sebaliknya, mungkinkan suatu kegiatan
hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. Ternyata ini juga mungkin
terjadi bahkan sering terjadi. Manusia misalnya, sejak lama ia menjadi objek
penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam, baik untuk
membangun psikologi, sosiologi, pedagogi, ekonomi, antropologi, bilogi, ilmu
hukum dan sebagainya, meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti
dan mengamati itu berbeda-beda. Dewasa ini, justru kecenderungan ini mulai
memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir, perekayasa,
dan juga pengusaha. Artinya, ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama
untuk kepentingan yang berbeda-beda. Kecenderungan ini justru memiliki
efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis, mendorong
kreativitas seseorang.
Aktivitas berfikir dalam
kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih
mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya, sedang berpikir dalam
kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong
pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. Hal ini merupakan implikasi dari
tekanan masing-masing pola berpikir tersebut. Secara global, baik berpikir
dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua, tetap saja membutuhkan
banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya.
Dalam filsafat terdapat objek
material dan objek formal. Objek material adalah sarwa-yang-ada, yang secara
garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat alam dan hakikat manusia. Sedangkan
objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya,
sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwa-yang-ada).
Sebagai
sub sistem filsafat, epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali
digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Objek epistemologi ini menurut
Jujun S.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk
memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperoleh
pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus
berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu
tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu
sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka
sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.
Selanjutnya, apakah yang menjadi
tujuan epistemologi tersebut. Jacques Martain mengatakan:
“Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab
pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang
memungkinkan saya dapat tahu”. Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi
bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari,
akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah
lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh
pengetahuan.
Rumusan tujuan epistemologi
tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. Rumusan tersebut
menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar
memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh
pengetahuan, sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif,
sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. Keadaan pertama hanya berorientasi
pada hasil, sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. Seseorang
yang mengetahui prosesnya, tentu akan dapat mengetahui hasilnya, tetapi
seseorang yang mengetahui hasilnya, acapkali tidak mengetahui prosesnya. Guru
dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 =
6) dan siswa mengetahui, bahkan hafal. Namun, siswa
yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. Dia tentu akan mengejar bagaimana
prosesnya, dua kali tiga didapatkan hasil enam. Maka guru yang profesional akan
menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail, sehingga siswa
benar-benar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka
lainnya.
Proses
menjadi tahu atau “proses pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap
pengetahuan, pemahaman dan pengembangan-pengembangannya. Proses ini bisa
diibaratkan seperti kunci gudang, meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam
gudang terdapat bermacam-macam barnag, tetapi dia tetap hanya apriori semata,
karena tidak pernah membuktikan. Dengan membawa kuncinya, maka gudang itu akan
segera dibuka, kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada
didalamnya. Dengan demikina, seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas
informasi orang lain, tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui
proses itu.
Penguasaan
terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang
secara komprehensif dan utuh, termasuk juga ide, gagasa, konsep dan teorinya,
sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja, tanpa ada alasan-alasan
yang mendasarinya. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling
menyalahkan pemikiran seseorang, padahal mereka belum pernah melacak proses
terjadinya pemikiran itu. Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat
adanya faktor-faktor yang mempengaruhi, alasan-alasan yang melatar belakangi,
maupun motif-motif yang mendasarinya. Ketika faktor, alasan dan motif ini belum
dikenali, maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang
lain. Sebaliknya, jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor,
alasan dan motif tersebut, maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain
dengan baik, sehingga dia dapat memakluminya. Faktor, alasan dan motif itu
maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah
pemikiran.
F. Landasan Epistemologi
(Dwi Bagus Cahyo P. / 116474078)
Landasan
epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan, sebab
ia merupakan tempat berpijak. Bangunan pengetahuan menjadi mapan, jika memiliki
landasan yang kokoh. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah, sedangkan
landasan bagaikan fundamennya. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan
berdasarkan kekuatan fundamennya. Demikian juga dengan epistemologi, akan
dipengaruhi atau tergantung landasannya.
Di
dalam filsafat pengetahuan, semuanya tergantung pada titik tolaknya. Sedangkan
landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah; yaitu cara yang dilakukan
ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode
ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu.
Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode
ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah, sebab ilmu merupakan
pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi
agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah.
Dengan demikian, metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan
menjadi ilmu, sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu
pengetahuan.
Begitu
pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains, sehingga banyak pakar yang sangat
kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya,
seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode; akhirnya
berkembang menjadi: sains adalah metode. Sikap ini mencerminkan bahwa mereka
berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah, tanpa menyadari
semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan
objektivitas dalam memahami sesuatu. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang
riil, tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi,
yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman dalam
menyusun, membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. Disini perlu dibedakan
antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). Pengetahuan adalah
pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan, sedangkan ilmu
pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah,
sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya; sistematis, objektif, logis dan
empiris.
Dengan
istilah lain, Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan
pengetahuan biasa (ordinary knowledge), sedangkan ilmu pengetahuan dengan
istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Hal ini sebenarnya hanya
sebutan lain. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa, juga bisa
disebut pengetahuan sehari-hari, atau pengalaman sehari-hari. Pada bagian lain, disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan
ilmiah, juga sering disebut ilmu dan sains. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah
pengayaan istilah, sedangkan substansisnya relatif sama, kendatipun ada juga
yang menajamkan perbedaan, misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan
akar sejarah dari dua kata tersebut, sumber-sumbernya, batas-batasanya, dan
sebagainya.
Metode
ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu
pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu
pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi
standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu
fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam
ilmu pengetahuan, melaikan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode
ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara
integratif
G.
Hubungan Epistemologi,
Metode Dan Metodologi
(Sandrina Tunggal Dewi 116474074)
Selanjutnya
perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi
untuk mengetahui kaitan-kaitannya, antara metode, metodologi dan epistemologi.
Hal ini perlu penegasan, mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering
dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. Untuk mengetahui peta masing-masing dari ketiga istilah ini,
tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi. “Dalam
dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode, yaitu cara kerja untuk
dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”.
Lebih jauh lagi Peter R.Senn
mengemukakan, “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu
yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian
dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Secara sederhana dapat
dikatakan, bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang
mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika metode merupakan
prosedur atau cara mengetahui sesuatu, maka metodologilah yang mengkerangkai
secara konseptual terhadap prosedur tersebut. Implikasinya, dalam metodologi
dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan
metode.
Metodologi
membahas konsep teoritik dari berbagai metode, kelemahan dan kelebihannya dalam
karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan, sedangkan
metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam
penelitian. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya
mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. Banyak
peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia
mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Padahal mestinya dia harus
benar-benar memahami, bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma
positivisme, sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham
determinsime, sesuatu yang ditentukan oleh yang lain), sedangkan penelitian
kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Dengan demikian,
metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan
penerapan suatu metode. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut
terdapat dalam wilayah epistemologi.
Oleh
karena itu, dapat dijelaskan urutan-urutan secara struktural-teoritis antara epistemologi,
metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi, dilanjutkan dengan
merinci pada metodologi, yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. Epistemologi
itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat, maka metode sebenarnya tidak bisa
dilepaskan dari filsafat. Filsafat mencakup bahasan epistemologi, epistemologi
mencakup bahasan metodologis, dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh
metode. Jadi, metode merupakan perwujudan dari metodologi, sedangkan metodologi
merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. Adapun epistemologi
merupakan bagian dari filsafat.
Posisi
masing-masing istilah ini, seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran
kecil, dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil
lagi. Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat, lingkaran kecil berupa epistemologi,
dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. Ini berarti bahwa
filsafat mencakup bahasan epistemologi, tetapi bahasan filsafat tidak hanya epistemologi
karena masih ada bahasan lain, yaitu ontologi dan aksiologi. Demikian juga epistemologi
mencakup bahasan metode (metodologi), namun bahasan epistemologi bukan hanya
metode semata-mata, karena ada bahasan lain, seperti: hakikat, sumber,
struktur, validitas, unsur, macam, tumpuan, batas, sasaran dan dasar
pengetahuan. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan
dan metode penelitian, kendatipun tidak bisa dipisahkan. Metode pengetahuan
berada dalam dataran filosofis-teoritis, sedangkan metode penelitian berada
dalam dataran teknis.
Dalam
filsafat, istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. Secara
lebih khusus, problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian
utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga
berkaitan dengan rancangan tata pikir, apa yang benar dan dapat dipergunakan
sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Kemudian berbicara tentang
metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang
digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau
kebenaran, baik dalam aspek parsial atau total. Lebih jelas lagi, bahwa
seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk
memperoleh pengetahuan, maka dia harus mengacu pada metodologi, mengingat
pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. Metodologi
inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap
metode.
H. Metodologi Ilmu Pengetahuan
(Hafidz Kurniawan / 116474082)
Para filsuf Muslim
membagi metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuan kepada 3 -macam. Ketiganya sesuai dengan hirarki objek-objeknya,
yakni 1. Metode Observasi atau
eksperimen (tajribi) bagi objek-objek fisik (mahsusat); 2. Metode Logis/Demonstrasi
(burhani) bagi objek-objek nonfisik (maqulat); 3. Metode Intuitif (irfani atau
dzauqi) bagi objek-objek nonfisik (metafisik) namun didapatkan secara langsung.
1. Metode
observasi, biasanya menggunakan sumber pengetahuan panca indera. Namun
terkadang ia membutuhkan pada alat-alat bantu bagi indera, yang tanpanya,
pegamatan indera tidak akan akurat dalam memperoleh pengetahuan.
2. Metode
Demonstratif merupajkan metode logika atau penalaran rasional yang digunakan
untuk menguji kebenaran dan kekeliruan dari sebuah pernyataan atau teori-teori
ilmiah dan filosofis dengan cara memerhatikan keabsahan dan validitas
pengambilan sebuah kesimpulan ilmiah. Menurut al-Farabi, tujuan dari metode
demonstratif ini adalah (1) untuk mengatur dan menuntun akal ke arah pemikiran
yang benar dalam hubungannya dengan setiap pengetahuan yang mungkin salah. (2)
Untuk melindungi pengetahuan dari kemungkinan salah. (3) Untuk memberi kita
sebuah alat bantu dalam menguji dan memeriksa pengetahuan yang mungkin tidak
bebas dari kesalahan (Kartanegara 2003).
3. Metode
Intuitif (irfan) berkaitan dengan intuisi atau hati (qalbun). Kekhasan metode
intuitif ini terletak pada sifatnya yang langsung. Menurut Mulyadhi, setidaknya
ada 3 cara dalam menganalisis metode intuitif yang secara langsung menangkap
objeknya, pertama, melalui pengalaman, yakni dengan merasakan atau mengalami
sendiri objeknya. Kedua, melalui ilmu kehadiran ("Um al-hudhuri).
Pengetahuan intuitif ditandai dengan hadirnya objek di dalam diri subjek.
Ketiga, melalui pengalaman eksistensial.
I.
Hakikat Epistemologi
(Danar Adi Pranawa / 116474080)
Pembahasan
tentang hakikat, lagi-lagi terasa sulit, karena ita tidak bisa menangkapnya,
kecuali ciri-cirinya. Apalagi hakikat epistemologi, tentu lebih sulit lagi. Epistemologi
berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan, membedakan cabang-cabangnya yang
pokok, mengidentifikasikan sumber-sumbernya dan menetapkan batas-batasnya. “Apa
yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah
sentral epistemologi, tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata
masalah-masalah filsafat. Pandangan yang lebih ekstrim lagi menurut Kelompok
Wina, bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat, melainkan termasuk dalam
kajian psikologi. Sebab epistemologi itu
berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia, the workings of human mind.
Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi
yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. Cara pandang demikian
akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi
keilmuan. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan pikiran manusia, karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan
pikiran. Kemudian jika diingat, bahwa filsafat adalah landasan dalam
menumbuhkan disiplin ilmu, maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan
pekerjaan pikiran manusia, terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif
yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Ini
berarti tidak ada disiplin ilmu lain, kecuali psikologi, padahal realitasnya
banyak sekali.
Oleh karena itu, epistemologi
lebih berkaitan dengan filsafat, walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang
empirik, justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. Dalam epistemologi
terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan
mengembangkannya. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui
perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis.
Perbedaaan padangan tentang
eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley
M. Honer dan Thomas C.Hunt yang menilai, epistemologi keilmuan
adalah rumit dan penuh kontroversi. Sejak semula, epistemologi merupakan
salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit, sebab epistemologi
menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan
metafisika sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan
darinya. Selain itu, pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang
dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan
biasanya diandaikan begitu saja, maka minat untuk membicarakan dasar-dasar
pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi
takaran minat kita.
Luasnya jangkauan epistemologi
ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. Metodologi misalnya telah digabungan
secara teliti dengan epistemologi dan logika. Sementara itu, logika itu sendiri
patut dipertanyakan, apakah logika itu bagian dari epistemologi, diluar epistemologi
sama sekali, atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi.
Ada yang menyatakan, bahwa posisi logika berada diluar ontologi, epistemologi
dan aksiologi. Di samping itu, epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa
berdiri sendiri, tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. Menurut, Jujun
S. Suriasumatri, bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi
pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar
dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masing-masing. Dalam
pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan
dengan komponen lain, ontologi dan aksiologi).
Selanjutnya,
epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral
setiap pandangan dunia. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan, apa yang
mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya; apa yang mungkin
diketahui dan harus diketahui; apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik
tidak usah diketahui; dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. Epistemologi
dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap
objek-objek pengetahuan. Tidak semua objek mesti dijelajahi oleh pengetahuan
manusia. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih
besar, sehingga tidak perlu diketahui, meskipun memungkinkan untuk diketahui.
Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri, sehingga tidak mungkin bisa
diketahui.
Epistemologi
ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Seseorang yang
senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat
umum menuju detail-detailnya, berarti dia menggunakan pendekatan deduktif.
Sebaliknya, ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama, baruk
ditarik kesimpulan secara umum, berarti dia menggunakan pendekatan induktif.
Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih
jauh, ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang
dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang,
yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi
terhadap corak sikap seseorang. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas
dengan serba strategis, sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Tetapi
terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia,
karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek, jika dilihat dari kepentingan
jangka panjang, maka tindakannya itu justru merugikan.
Pada
bagian lain dikatakan, bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan
gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. Kedua
cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan
kebenaran, sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia
dalam mempelajari alam, yakni pikiran dan indera. Oleh sebab itu, epistemologi
adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan
kenyataan yang lain dari diri sendiri. Usaha menafsirkan adalah aplikasi
berpikir rasional, sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir
empiris. Hal ini juga bisa dikatakan, bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan
deduksi, sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. Gabungan kedua
macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah.
Jika
metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi, maka menimbulkan pemahaman, bahwa
di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi
yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme,
atau deduktif dengan induktif), dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi
itu bertumpu pada landasannya, karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi.
Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang
rumit sekali, sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara
berkesinambungan dan serius.
J.
PERKEMBANGAN EPISTEMOLOGI MODERN
( Ardi Setioko / 116474081 )
a. Arus anti-intelektualisme dibalik
oleh René Descartes (rené dèkar, 1600), yang memulai arus-balik untuk
memulihkan hak-hak intelek. Dengan demikian Descartes menjadi bapak
filsafat modern. Walaupun dia ahli matematika, namun paham epistemologinya
miskin, justru karena mau mengetrapkan metodologi matematika di segala bidang.
Ilmu psikologinya yang kacau memerosotkan epistemologinya karena penuh dengan asumsi-asumi
yang membuat ilmu mengenai “pengertian” itu sangat membosankan. Descartes menolak
peran indera; dia menghidupkan kembali pendapat Plato mengenai idea
innata (konsep bawaan sejak lahir, bukan dari pengalaman
hidup); dialah yang
menyebar-luaskan konsep representasi dalam “mengerti sesuatu” (konsep
yang dianggap sebagai pendapat skolastik, walaupun tidak dikembangkannya, yaitu
bahwa pengertian mengenai suatu hal itu hanyalah -representasi- menghadirkan
sesuatu lain yang abadi yang sudah ada sebelumnya). Usul Descartes paling baik;
dia bermaksud menjadi sekaligus realis (benda-benda) dan juga mau membela
posisi primer akal-budi. Namun pandangan-pandangannya malah dari satu pihak
justru menuntun orang kepada idealisme dan skeptisisme, dan dari lain pihak
sukses memupuk dualisme antara pikiran dan materi, yang sampai sekarang masih
membingungkan para pemikir modern.
b. Mulai Descartes sampai akhir abad
18 (1790), Epistemologi merosot. Baru selanjutnya Immanuel Kant (1724-1804)
memulai lagi revolusi filsafat yang menawarkan dibuangnya asumsi-asumsi
yang tak punya dasar alasan lalu mulai mengutak-atik pengertian (pengetahuan).
Kant, walaupun filsafatnya tetap memakai intelek untuk menerobos benda-benda
dan sangat metodologis, dengan kerja yang tekun, dan niat yang kuat, namun dia
tidak sukses; karena dia itu sangat cerdas dan sekaligus juga mengabaikan
tradisi epistemologi yang panjang yang sudah ada sebelumnya. Tanpa mau tahu
fakta bahwa pengertian intelektual manusia itu abstrak (fakta ini telah memaksa
Aristoteles dan Thomas Aquinas mengakui kemampuan pengabstrakan intelek
manusia) Kant tidak melihat alternatif: kalau bukan idea innata (Plato dan
Descartes, yang ditolaknya), ya teorinya sendiri mengenai intelek (bahwa
intelek menangkap informasi data inderawi tetapi sekaligus menentukan sendiri
bentuk tertentu atas data inderawi yang diterima). Bagi Kant, pikiran itu
berperan aktif membuat benda-benda bisa dimengerti; pikiran memberi sifat “bisa
dimengerti” pada benda-benda; sedangkan kebenaran / kenyataan itu dari dirinya
sendiri (tanpa sentuhan pikiran manusia) tidak bisa dimengerti. Dalam
pandangan Kant, Metafisik (=mengakui
adanya sesuatu di balik fisik) menjadi mustahil. Akibatnya, pengertian berakhir dengan menjadi subjektivisme
(= hanya menghiraukan apa yang tergambar di pikiranku,
tetapi mengabaikan obyek sebagai sumber gambar tersebut) dan sekaligus menjadi agnostisisme
(= aliran yang berpendapat bahwa kita tidak bisa tahu
apa-apa mengenai hal-hal yang non-materiil). Mengantisipasi akan jadi apa nanti teorinya,
Kant mengembangkan pendapatnya mengenai intelek praktis (yang secara a priori dan transendental menangkap sesuatu dari data
inderawi dan menyimpulkannya) dan buah pikirannya itu mempersiapkan jalan untuk voluntarisme (= kehendak kita sangat berperan menentukan adanya sesuatu; yang kita
kehendaki itulah yang tampil dalam pengertian kita) dan pragmatisme (= hanya menggarap apa yang ada di hadapannya saja). Paham idealisme (yang mementingkan idee subjektif dari pada benda objektif yang coba
dimengerti) yang
beredar pada jaman itu dan masuk dalam epistemologi juga berasal dari Kant. Kutub
lawannya adalah garis pikiran David Hume yang ikut mengembangkan ilmu-ilmu alam
dan tampil dalam pelbagai bentuk, seperti empirisisme (= mementingkan yang bisa diamati, bukan yang diduga), positivisme (= yang bisa dilihat dan dibuktikan, bukan yang dipikirkan), scientivisme (= yang mementingkan syarat-syarat ilmu, yaitu harus ada data, bukti,
saksi, yang teruji), utilitarianisme
(= yang langsung bisa dimanfaatkan, bukan yang
diteorikan), dan instrumentalisme
(= yang langsung bisa dipakai untuk mencapai tujuan).
K. PENGARUH EPISTEMOLOGI
(Ivansa Angga Pradana / 116474077)
Bagi
Karl R. Popper, epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah. Sebagai teori
pengetahuan ilmiah, epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara
kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. Tetapi,
ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya, sebab ilmu pengetahuan
yang berhenti, akan kehilangan kekhasannya. Ilmu pengetahuan harus berkembang
terus, sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang
atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian. Perkemabangan
ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan, bahwa kebenaran ilmu pengetahuan
itu bersifat tentatif. Selama belum digugurkan oleh temuan lain, maka suatu
temuan dianggap benar. Perbedaan hasil teman dalam masalah yang sama ini
disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk
ilmu pengetahuan. Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis
prosedur ilmu pengetahuan tersebut, maka epistemologi dapat memberikan
pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. Proses ini lebih
penting daripada hasil, mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme
kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Akhirnya, epistemologi bisa
menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu
pengetahuan yang kebenarannya terandalkan.
Epistemologi
juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori
yang ada. Dalam filsafat, banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian
mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan
pendekatan-pendekatan epistemologi. Penguasaan epistemologi, terutama cara-cara
memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis
terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya
sendiri. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk
menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang
maksimal. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk
mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri
(kritik internal). Implikasinya, epistemologi senantiasa mendorong dinamika
berpikir secara korektif dan kritis, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan
relatif mudah dicapai, bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya.
Dinamika
pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan, ide atau gagasan, baik
yang dimiliki seseorang maupun masyarakat. Mohammad Arkoun menyebutkan, bahwa
keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan
epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya. Keberangaman
pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman
pemikiran. Kendati terhadap satu persoalan, tetapi karena sudut pandang yang
ditempuh seseorang berbeda, pada gilirannya juga menghasilkan pemikiran yang
berbeda. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah
suatu kelaziman, tidak ada yang aneh sama sekali, sehingga perbedaan pemikiran
itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada
perbedaan sudut pandang, sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak
dari epistemologinya
Secara
global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban,
sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua
aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi
dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu
mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari
ilmu-ilmu—dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka.
Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan
teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan
pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena
alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi.
Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa
pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun
teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata
teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
Epistemologi
senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan
menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil
pemikiran-pemikiran secara epistemologis, yaitu pemikiran dan perenungan yang
berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkat-perangkat apa
yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya. Pada
awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru, mungki saja
mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari
proses menuju keberhasilan. Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia
pengetahuan, berupa faktor-faktor penyebabnya. Jadi kronologinya adalah sebagai
berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan, sehingga
didapatkan percikan-percikan pengetahuan, kemudian disusun secara sistematis
menjadi ilmu pengetahuan (sains). Akhirnya ilmu
pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi, technology is an apllied
of science (teknologi adalah penerapan sains). Pemikiran pada wilayah proses
dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi.
Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut, maka epistemologi
bukan hanya mungkin, melainkan mutlak perlu dikuasai.
BAB II
Kesimpulan
Dari keterangan keterangan diatas
dapat disimpulkan bahwa epistemologi teori pengetahuan, yaitu membahas tentang
bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari obyek yang ingin dipikirkan
DAFTAR PUSTAKA
- suparmanhttp://www.blogger.com/profile/03249547895308622683noreply@blogger.com
- http://qq-phahlevy.blogspot.com/2011/06/epistemologi-ilmu-pengetahuan-1.html
- Hardono Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta : Kanisus, 1994.
- Qomar, Mujamil,. Epistemologi Pendidikan
Islam Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik (Jakarta: Erlangga, 2005).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar