Jumat, 06 Februari 2015

Maksimalisasi dan akselerasi Prestasi Bola Tangan Indoor



Bola tangan merupakan olaharaga modifikasi dari bola basket dan sepak bola yang mengandalkan ketangkasan tangan untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Lapangan berukuran 40x20 meter dengan dua gawang di kedua sisi jauhnya mengkategorikan olahraga ini sebagai salah satu olahraga indoor. Walaupun ada versi outdoor-nya yakni bola tangan pantai yang kerap kali dipertandingkan pada even dua tahunan asian beach game. Permainan bola tangan indoor biasa dipertandingkan dengan 7 orang pemain yakni, (1. LW - left wing, 2. LB - left back, 3. CB - centre back or playmaker, 4. RB - right back, 5. RW - right wing, 6. PV – pivot, 7. GK - goal keeper). Bisa disederhanakan dengan LW dan LB sebagai pemain sayap. CB, RB, RW dan PV sebagai pemain tengah dan GK sebagai kiper.
Di indonesia khususnya jawa timur olahraga ini belum terlalu popular seperti halnya olahraga dasar modifikasinya (sepak bola dan bola basket). Bola tangan seakan menjadi olahraga yang ter-anaktirikan, apalagi diketahui bola tangan belum mempunyai induk organisasi yang resmi dan konkret di jawa timur. Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab utama mengapa olahraga yang dalam bahasa inggrisnya Handball ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Parahnya lagi, olahraga ini juga sudah menjadi salah satu cabor yang dipertandingkan baik dalam PON (Pekan Olahraga Nasional) maupun Olimpiade dan jawa timur tidak pernah bisa berbuat banyak pada cabang ini bahkan sering sekali tidak bisa menurunkan wakilnya. Hal ini selaras dengan apa yang terjadi pada tim pelajarnya yang baru-baru ini telah mengikuti kejuaraan nasional bola tangan antar pelajar di Jakarta. Hanya ada dua tim yang turun mewakili jawa timur pada kejuaraan tersebut dan kebetulan dua-duanya dari UNESA (universitas negeri Surabaya). Tim yang terbentuk hanya dalam beberapa minggu tersebut sudah dapat dipastikan tidak akan mempunyai banyak peluang untuk berbuat lebih pada even tersebut. akhirnya terjadi. Pulang hanya membawa pengalaman… ya “pengalaman kalah”. Tapi tak apalah ada yang bisa dibawa pulang.
Semua kenyataan di atas hanya akan menjadi luka berkepanjangan jika hanya direnungkan dan disesali. Move on-lah handball jatim. Olahraga bola tangan diindonesia yang sudah dijelaskan di atas kurang begitu terkenal di masyarakat, sesunguhnya menyediakan peluang prestasi yang lebih mudah untuk digapai. Pembuatan program pencetakan atlet dan pembibitan sejak dini sejatinya adalah jalan sederhana yang bisa ditempuh untuk memperoleh prestasi tertinggi dalam cabor ini. Tapi ada masalah lain yang timbul. Even-even bola tangan adalah even yang mempunyai tempo yang singkat dan cepat. Setiap tahun selalu ada kejuaraan baik tingkat nasional dan internasional. Sedangkan program pencetakan atlet dan pembibitan tentunya membutuhkan waktu yang relatif lama. Seperti pada kejurnas antar pelajar, even ini akan selalu ada tiap tahunnya, dan yang akan membuat hati sedikit nyesek adalah tahun 2013 jawa timur khususnya Surabaya (UNESA) diproyesikan untuk menjadi tuan rumah even tahunan ini. Apa yang bisa dilakukan oleh handball jatim? Apa harus menjadi penonton di rumah sendiri?
Penulis mempunyai satu cara yang cettarr membahana hulala… Bukan naturalisasi, ganti akta ataupun ganti KTP. Tapi satu cara jitu yang illegal dan tidak melanggar undang-undang. Menggunakan cara perekrutan pemain dari cabang olahraga yang memiliki cara berlatih yang hampir sama dengan bola tangan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwasanaya olahraga bola tangan ini merupakan modifikasi dari sepak bola dan bola basket. Jadi kedua cabang olahraga tersebut bisa dijadikan sumber penyuplai atlet urgensi bola tangan yang diharapkan bisa langsung bermain di even-even jangka pendek sambil menunggu hasil dari pencetakan atlet sesungguhnya.
Sebagai yang telah diketahui bola tangan terdiri dari 7 (LW - left wing, LB - left back, CB - centre back or playmaker, RB - right back, RW - right wing, PV – pivot, GK - goal keeper). LW dan LB bisa dikategorikan sebagai pemain sayap. CB, RB, RW dan PV sebagai pemain tengah. Pemain tengah dituntut untuk memiliki lompatan tinggi dari posisi diam tapi tidak menutup kemungkinan lompatan dari posisi berlari dan juga lemparan yang sangat kencang. Untuk criteria seperti ini seorang penjaga gawang sepak bola memiliki tipikal latihan dan permainan yang hampir serupa, yaitu lemparan keras, tangkapan sempurna dan lompatan yang tinggi. Untuk pemain tengah PV bisa menggunakan tenaga dari pemain basket posisi center karena kebanyakan pemain center pada bola basket mempunyai tubuh besar dan kuat plus mempunyai gerakan pivot yang bagus sehingga akan sangat bermanfaat jika diterapkan pada permainan bola tangan yang banyak mengandung kontak fisik langsung dan memerlukan gerak ledakan yang tiba-tiba. Untuk posisi sayap bisa diisi oleh pemain basket khususnya dari posisi forward yang mana banyak melakukan lompatan-lompatan dari posisi berlari seperti gerakan lay up. Yang terakhir posisi penjaga gawang memungkinkan untuk diisi oleh pemain voli. Memang voli bukan salah satu dasar cabor dari bola tangan tetapi sama-sama olahraga yang banyak menggunakan ketangkasan tangan. Mengapa pemain voli? Karena kebanyakan pemain voli mempunyai reflek yang bagus terhadap datangnya bola-bola keras dan lurus. Selain itu penjaga gawang pada bola tangan tidak menuntut untuk bisa menangkap bola dengan baik, yang terpenting adalah bisa menepis bola menjauhi gawang.
Jalan pintas tersebut dianggap pantas dilakukan oleh penulis. Selain tidak melanggaran aturan tetapi juga tidak meminggirkan  nilai-nilai sportifitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar