Bola tangan merupakan olaharaga
modifikasi dari bola basket dan sepak bola yang mengandalkan ketangkasan tangan
untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Lapangan berukuran 40x20 meter dengan
dua gawang di kedua sisi jauhnya mengkategorikan olahraga ini sebagai salah
satu olahraga indoor. Walaupun ada versi outdoor-nya yakni bola tangan pantai
yang kerap kali dipertandingkan pada even dua tahunan asian beach game.
Permainan bola tangan indoor biasa dipertandingkan dengan 7 orang pemain yakni,
(1. LW - left wing, 2. LB - left back, 3. CB - centre back or playmaker, 4. RB - right back, 5. RW -
right wing, 6. PV – pivot, 7. GK - goal keeper). Bisa disederhanakan
dengan LW dan LB sebagai pemain sayap. CB, RB, RW dan PV sebagai pemain tengah
dan GK sebagai kiper.
Di indonesia khususnya jawa timur
olahraga ini belum terlalu popular seperti halnya olahraga dasar modifikasinya
(sepak bola dan bola basket). Bola tangan seakan menjadi olahraga yang
ter-anaktirikan, apalagi diketahui bola tangan belum mempunyai induk organisasi
yang resmi dan konkret di jawa timur. Faktor inilah yang menjadi salah satu
penyebab utama mengapa olahraga yang dalam bahasa inggrisnya Handball ini kurang mendapat perhatian
dari masyarakat. Parahnya lagi, olahraga ini juga sudah menjadi salah satu
cabor yang dipertandingkan baik dalam PON (Pekan Olahraga Nasional) maupun
Olimpiade dan jawa timur tidak pernah bisa berbuat banyak pada cabang ini
bahkan sering sekali tidak bisa menurunkan wakilnya. Hal ini selaras dengan apa
yang terjadi pada tim pelajarnya yang baru-baru ini telah mengikuti kejuaraan
nasional bola tangan antar pelajar di Jakarta. Hanya ada dua tim yang turun
mewakili jawa timur pada kejuaraan tersebut dan kebetulan dua-duanya dari UNESA
(universitas negeri Surabaya). Tim yang terbentuk hanya dalam beberapa minggu tersebut
sudah dapat dipastikan tidak akan mempunyai banyak peluang untuk berbuat lebih pada
even tersebut. akhirnya terjadi. Pulang hanya membawa pengalaman… ya
“pengalaman kalah”. Tapi tak apalah ada yang bisa dibawa pulang.
Semua kenyataan di atas hanya akan
menjadi luka berkepanjangan jika hanya direnungkan dan disesali. Move on-lah handball
jatim. Olahraga bola tangan diindonesia yang sudah dijelaskan di atas kurang
begitu terkenal di masyarakat, sesunguhnya menyediakan peluang prestasi yang
lebih mudah untuk digapai. Pembuatan program pencetakan atlet dan pembibitan
sejak dini sejatinya adalah jalan sederhana yang bisa ditempuh untuk memperoleh
prestasi tertinggi dalam cabor ini. Tapi ada masalah lain yang timbul.
Even-even bola tangan adalah even yang mempunyai tempo yang singkat dan cepat. Setiap
tahun selalu ada kejuaraan baik tingkat nasional dan internasional. Sedangkan
program pencetakan atlet dan pembibitan tentunya membutuhkan waktu yang relatif
lama. Seperti pada kejurnas antar pelajar, even ini akan selalu ada tiap
tahunnya, dan yang akan membuat hati sedikit nyesek adalah tahun 2013 jawa timur khususnya Surabaya (UNESA)
diproyesikan untuk menjadi tuan rumah even tahunan ini. Apa yang bisa dilakukan
oleh handball jatim? Apa harus menjadi penonton di rumah sendiri?
Penulis mempunyai satu cara yang cettarr
membahana hulala… Bukan naturalisasi, ganti akta ataupun ganti KTP. Tapi satu
cara jitu yang illegal dan tidak melanggar undang-undang. Menggunakan cara
perekrutan pemain dari cabang olahraga yang memiliki cara berlatih yang hampir
sama dengan bola tangan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwasanaya
olahraga bola tangan ini merupakan modifikasi dari sepak bola dan bola basket.
Jadi kedua cabang olahraga tersebut bisa dijadikan sumber penyuplai atlet urgensi bola tangan yang
diharapkan bisa langsung bermain di even-even jangka pendek sambil menunggu
hasil dari pencetakan atlet sesungguhnya.
Sebagai yang telah diketahui bola tangan
terdiri dari 7 (LW - left wing, LB - left back, CB - centre back or playmaker, RB
- right back, RW - right wing, PV – pivot, GK - goal keeper). LW dan LB bisa dikategorikan sebagai pemain
sayap. CB, RB, RW dan PV sebagai pemain tengah. Pemain tengah dituntut untuk
memiliki lompatan tinggi dari posisi diam tapi tidak menutup kemungkinan
lompatan dari posisi berlari dan juga lemparan yang sangat kencang. Untuk
criteria seperti ini seorang penjaga gawang sepak bola memiliki tipikal latihan
dan permainan yang hampir serupa, yaitu lemparan keras, tangkapan sempurna dan
lompatan yang tinggi. Untuk pemain tengah PV bisa menggunakan tenaga dari
pemain basket posisi center karena kebanyakan pemain center pada bola basket
mempunyai tubuh besar dan kuat plus mempunyai gerakan pivot yang bagus sehingga
akan sangat bermanfaat jika diterapkan pada permainan bola tangan yang banyak
mengandung kontak fisik langsung dan memerlukan gerak ledakan yang tiba-tiba.
Untuk posisi sayap bisa diisi oleh pemain basket khususnya dari posisi forward
yang mana banyak melakukan lompatan-lompatan dari posisi berlari seperti
gerakan lay up. Yang terakhir posisi penjaga gawang memungkinkan untuk diisi
oleh pemain voli. Memang voli bukan salah satu dasar cabor dari bola tangan
tetapi sama-sama olahraga yang banyak menggunakan ketangkasan tangan. Mengapa
pemain voli? Karena kebanyakan pemain voli mempunyai reflek yang bagus terhadap
datangnya bola-bola keras dan lurus. Selain itu penjaga gawang pada bola tangan
tidak menuntut untuk bisa menangkap bola dengan baik, yang terpenting adalah
bisa menepis bola menjauhi gawang.
Jalan pintas tersebut dianggap pantas
dilakukan oleh penulis. Selain tidak melanggaran aturan tetapi juga tidak
meminggirkan nilai-nilai sportifitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar